Bayangkan: sebuah rumah sakit di Sumatera memesan peralatan diagnostik senilai puluhan juta rupiah. Produk dikirim dari Jakarta, melalui beberapa moda transportasi – darat, laut, udara. Sesampainya di tujuan, alat tersebut tidak berfungsi karena terpapar suhu ekstrem di gudang transit. Siapa yang menanggung kerugian?

Inilah realita rantai pasok alat kesehatan di Indonesia yang jarang dibicarakan. Logistik alkes bukan sekadar pengiriman biasa. Banyak produk – mulai dari reagen laboratorium, produk diagnostik, hingga implan medis memiliki persyaratan suhu, kelembapan, dan penanganan khusus yang tidak boleh dilanggar sekalipun.

Standar cold chain management untuk alat kesehatan tertentu mengharuskan suhu penyimpanan dan pengiriman dijaga ketat. Satu kali gagal jaga suhu, produk menjadi tidak layak pakai dan yang lebih buruk, bisa membahayakan pasien. Ini bukan risiko yang bisa dianggap remeh.

Di sisi lain, kondisi infrastruktur logistik Indonesia yang belum merata menambah kompleksitas. Daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) masih sangat sulit dijangkau dengan metode pengiriman konvensional. Distributor alat kesehatan yang kompeten harus memiliki solusi last-mile delivery yang adaptif dan jaringan mitra pengiriman yang tersertifikasi.

Oleh karena itu, memilih mitra distribusi bukan hanya soal harga. Ini soal kapabilitas: apakah mereka memiliki armada berpendingin? Apakah gudang mereka tersertifikasi? Apakah sistem pelacakan pengiriman mereka real-time? Pertanyaan-pertanyaan ini menentukan apakah produk Anda sampai dalam kondisi prima – atau tidak sampai sama sekali.

PT BEE EKSELEN ERAJAYA memiliki infrastruktur logistik alkes yang handal dari Sabang sampai Merauke. Jadilah partner kami dan pastikan produk Anda sampai tepat waktu, tepat kondisi. Hubungi kami sekarang!